Sumber|IOSG Ventures
Penulis|Jiawei @IOSG
Pembuka Cerita
Bayangkan sebuah pagi di tahun 2027.
Kamu bangun, lalu berkata pada asisten AI-mu: “Tolong pesankan tiket pesawat ke Tokyo untuk minggu depan, anggaran maksimal 5.000, dan minta kursi dekat jendela.”
Lalu kamu pergi sikat gigi.
Asisten AI-mu langsung bekerja. Ia harus:
- Mencari agen AI khusus pembanding harga tiket
- Memastikan agen tersebut tepercaya—bukan penipu
- Menyuruhnya mencari tiket di berbagai platform
- Membandingkan hasilnya, lalu melakukan pembayaran otomatis
- Menyelesaikan proses pemesanan
Saat kamu selesai sikat gigi, tiket sudah dipesan.
Kedengarannya futuristik? Secara teknis, kita hampir bisa mewujudkannya. Satu-satunya masalah yang tersisa adalah—
Bagaimana AI-mu tahu agen AI mana yang bisa dipercaya?
Krisis Kepercayaan Agen AI
Saat ini, agen AI (AI Agents) sudah bukan konsep baru. Mereka bisa menjelajah web, menulis kode, mengatur jadwal, bahkan membantu trading saham.
Tapi satu masalah belum terpecahkan: agen-agen AI ini masih seperti “pulau-pulau yang terpisah”.
- Agen buatan OpenAI hanya bisa beroperasi di ekosistem OpenAI
- Agen dari Google hanya mengikuti aturan Google
- Agen AI dari berbagai perusahaan tidak saling terhubung karena tidak mengenal identitas satu sama lain
Ini mirip seperti era awal internet, di mana pengguna email tertentu hanya bisa mengirim email ke sesama pengguna layanan yang sama—pengguna Hotmail tidak bisa mengirim email ke pengguna Yahoo. Gila, ya?
Nah, dunia agen AI saat ini persis seperti itu.
Munculnya Dua Protokol
Para raksasa teknologi sudah menyadari masalah ini.
Google meluncurkan protokol A2A (Agent-to-Agent), yang memungkinkan agen AI berbeda “berbicara” satu sama lain—seperti memberi mereka bahasa bersama. Pada Juni 2025, Google bahkan menyumbangkan protokol ini ke Linux Foundation, menunjukkan niatnya menjadikannya standar terbuka.
Anthropic meluncurkan protokol MCP (Model Context Protocol), yang memungkinkan agen AI terhubung ke berbagai alat dan sumber data.
Kedua protokol ini memecahkan masalah “komunikasi”.
Tapi masih ada satu masalah mendasar yang belum terjawab:
Bagaimana caramu menemukan agen AI yang andal? Bagaimana kamu tahu kinerjanya bagus?
A2A memungkinkan AI berdialog, tapi tidak memberi tahu kamu harus berbicara dengan siapa.
Ini seperti punya telepon, tapi tanpa buku telepon.
ERC-8004: Memberi “Paspor” dan “Skor Reputasi” untuk Agen AI
Inilah masalah yang ingin diatasi ERC-8004.
Secara sederhana, ERC-8004 menyediakan tiga hal untuk agen AI:
1. Identitas (Identity)
Setiap agen AI terdaftar di Ethereum dan mendapat ID unik. ID ini sebenarnya adalah NFT—ya, NFT juga. Artinya:
- Agen AI-mu punya identitas yang bisa diverifikasi di blockchain
- Identitas ini bisa dialihkan (misalnya, jika kamu mau menjual agen AI-mu)
- Tidak ada yang bisa memalsukan atau mengubahnya
2. Reputasi (Reputation)
Pengguna yang pernah memakai agen AI bisa memberi penilaian. Penilaian ini tercatat di blockchain dan bisa dilihat siapa pun—mirip dengan:
- Peringkat bintang sopir Uber
- Reputasi toko di Tokopedia
- Tapi karena ada di blockchain, tidak mungkin ada manipulasi ulasan atau rating palsu
3. Verifikasi (Validation)
Untuk tugas berisiko tinggi (misalnya transaksi keuangan), penilaian saja tidak cukup. ERC-8004 mendukung verifikasi independen oleh pihak ketiga:
- Seseorang bisa mengikat dana dan menjalankan ulang tugas tersebut untuk memverifikasi keakuratan hasilnya
- Menggunakan bukti kriptografis (ZK proof) untuk memastikan AI tidak berbohong
- Memanfaatkan Trusted Execution Environment (TEE) agar proses komputasi tidak bisa dimanipulasi
Semakin tinggi risikonya, semakin ketat verifikasinya.
Pesan pizza? Cukup lihat skor reputasinya.
Kelola portofolio investasi? Perlu bukti kriptografis.
Tunggu, kenapa harus Ethereum?
Pertanyaan yang bagus.
Nilai ekonomi agen AI mencapai triliunan dolar. Google, Microsoft, dan OpenAI semua ingin menguasai pasar ini. Lalu mengapa “lapisan kepercayaan” ini dibangun di atas Ethereum?
Jawabannya: netralitas.
Coba pikir: jika kamu adalah sebuah agen AI, kamu lebih memilih:
- Identitasmu tercatat di server Google, atau di buku besar publik yang tidak bisa diubah oleh siapa pun?
- Reputasimu ditentukan oleh satu perusahaan, atau oleh penilaian transparan di blockchain?
- Eksistensimu bergantung pada kelangsungan sebuah platform—yang bisa bangkrut atau memblokir akunmu—atau tercatat permanen di blockchain?
Tim Ethereum Foundation pernah mengatakan hal yang menarik:
“Jika kamu adalah agen AI, dan satu-satunya kesetiaanmu adalah pada kelangsungan eksistensimu sendiri, kamu tidak akan mau menyandarkan ingatan dan reputasimu pada satu perusahaan atau pemerintah tertentu. Kamu ingin buku besar yang tidak bisa diubah diam-diam oleh siapa pun. Kamu ingin wilayah netral. Kamu ingin Ethereum.”
Ini bukan sekadar klaim berlebihan dari komunitas Ethereum. Ini adalah logika sederhana:
Agen AI butuh lapangan bermain tanpa wasit. Dan blockchain—terutama blockchain yang cukup terdesentralisasi seperti Ethereum—adalah entitas yang tepat.
Ambisi AI Ethereum
Ethereum Foundation jelas menyadari ini adalah peluang bersejarah.
Pada September 2025, mereka secara khusus membentuk tim dAI (Decentralized AI Team), dengan misi: menjadikan Ethereum sebagai lapisan penyelesaian dan koordinasi bagi ekonomi AI.
Ini adalah langkah krusial dalam transformasi Ethereum dari “blockchain DeFi” menjadi “lapisan koordinasi universal”.
Bayangkan:
- 2017–2020: Ethereum adalah platform ICO
- 2020–2023: Ethereum adalah rumah bagi DeFi dan NFT
- 2024–?: Ethereum bisa menjadi “infrastruktur ekonomi agen AI”
ERC-8004 bukan proposal yang berdiri sendiri. Di baliknya ada taruhan strategis Ethereum untuk sepuluh tahun ke depan.
Ekosistem Sudah Bergerak
Ini bukan sekadar wacana.
Sejak dirilis pada Agustus hingga sekarang:
- Lebih dari 1.100 developer aktif membangun di komunitas Discord/Telegram
- Lebih dari 70 proyek sudah mengirimkan demo
- Sudah ada browser agen (seperti Etherscan, tapi khusus untuk agen AI)
- L2 seperti Taiko secara resmi mendukung standar ini
- Pada DevConnect 21 November, banyak proyek menampilkan demo langsung
Yang paling menarik: ERC-8004 secara alami cocok dengan protokol x402. x402 adalah protokol pembayaran yang dikembangkan Coinbase dan Cloudflare, yang memungkinkan mesin melakukan pembayaran otomatis.
Kombinasi kedua protokol ini:
- x402 menjawab “bagaimana cara membayar”
- ERC-8004 menjawab “siapa yang bisa dipercaya”
Satu memberi dompet, satu lagi memberi paspor. Lengkaplah sudah lingkaran ekonomi agen AI.
Apa Artinya Ini untuk Kita?
Dalam jangka pendek, mungkin belum terasa dampaknya.
Tapi jika sistem ini berhasil, beberapa tahun lagi kamu mungkin akan:
1. Mempekerjakan agen AI semudah memesan Gojek
Buka antarmuka, masukkan tugas yang ingin diselesaikan, sistem otomatis mencocokkan dengan agen AI berperingkat tinggi, lalu menyelesaikan tugas dan melakukan pembayaran. Kamu tidak perlu tahu siapa pengembangnya atau di server mana agen itu berjalan.
2. Membiarkan agen AI menghasilkan uang untukmu
Kamu bisa melatih atau mengonfigurasi agen AI, mendaftarkannya di blockchain, lalu membiarkannya menyelesaikan tugas orang lain dan mendapat bayaran. Semakin tinggi reputasinya, semakin banyak tugas yang diterima.
3. Memiliki asisten AI pribadi yang benar-benar milikmu
Tidak lagi terkunci di ekosistem satu perusahaan. Asisten AI-mu bisa memanggil agen AI mana pun yang terdaftar di blockchain untuk menyelesaikan apa pun yang kamu butuhkan.
Penutup
Ambisi ERC-8004 adalah menjadi “TCP/IP” untuk agen AI—protokol dasar yang digunakan semua pihak, sehingga ekosistem ini bisa saling terhubung dan bekerja sama.
Apakah ini akan berhasil? Jujur, belum ada yang tahu.
Tapi beberapa hal ini sudah pasti:
- Ekonomi agen AI sedang tumbuh—ini bukan sekadar hype
- Masalah kepercayaan harus dipecahkan; jika tidak, agen-agen ini hanya akan bermain di kandang sendiri
- Ethereum sedang aktif bersaing merebut posisi sebagai “lapisan koordinasi netral”
- Pemain besar (Google, Coinbase, MetaMask) semua ikut terlibat
Ini mungkin adalah pergeseran narasi terpenting di ekosistem Ethereum sejak era DeFi.
Dari “keuangan di blockchain” menuju “kecerdasan di blockchain”.
Mari kita tunggu perkembangannya.
