骂龙虾、劝年轻人不要创业?问题是很多人的班,可能先没了

Mencaci-caci Lobster, Menasihati Kaum Muda untuk Tidak Berwirausaha? Masalahnya, Banyak Orang Mungkin Lebih Dulu Kehilangan Pekerjaannya

BroadChainBroadChain15/03/2026, 22.12
Konten ini telah diterjemahkan oleh AI
Ringkasan

Di era AI, jalur promosi tradisional di dunia kerja sedang runtuh, dan kaum muda menghadapi kenyataa

Penulis artikel ini:

Dr. Hu Xuanfeng

Wakil Direktur Aset Digital, Fosun Wealth Hong Kong

Direktur Eksekutif Hong Kong Blockchain Application and Investment Research Institute

Sekretaris Jenderal Asosiasi Web3.0 Hong Kong

Wakil Direktur Pusat Promosi Industri Blockchain Delta Sungai Yangtze

Salah satu penulis buku Stablecoin: Exploring the Future of AI Agent Economy

Artikel ini bukan ajakan bagi anak muda untuk buru-buru resign dan startup
Saya menentang startup yang terburu-buru hanya karena tren AI—startup yang mengandalkan ilusi pendanaan sebagai jalan keluar.
Tapi yang lebih saya tolak adalah ketika "pekerjaan" itu sendiri mulai menghilang, masih ada yang dengan enteng menasihati anak muda: "Jangan startup."

I|Mengapa artikel "Jangan Startup" viral? Karena cuma benar separo

Belakangan, artikel berjudul "Jangan Startup. Jangan Startup. Jangan Startup" ramai diperbincangkan. Wajar saja—karena separuhnya memang benar: Di era AI, mengandalkan dana investor untuk bikin tim kecil dan berharap bisa saingi langsung perusahaan besar pemilik model dasar (large model companies) lewat satu produk lapisan aplikasi (application-layer product), itu memang bukan startup—tapi bunuh diri massal buat kebanyakan anak muda.
Pernyataan ini, saya setuju.

Tapi artikel ini sepihak dan tidak utuh. Diam-diam, narasi "jangan startup dengan cara lama" diganti jadi "anak muda sebaiknya jangan startup sama sekali".

Ini ibarat seseorang berdiri di ujung jembatan, lihat arus sungai deras, lalu teriak ke orang di belakang: "Jangan nyebrang! Jangan nyebrang! Jangan nyebrang!"
Kedengarannya sangat bertanggung jawab. Masalahnya: api sudah berkobar di sisi jembatan tempat dia berdiri.

Realita sekarang bukan "anak muda pengen startup", tapi semakin banyak anak muda sadar: jembatan karier yang dulu mereka kenal—sedang ambruk di depan mata.

II|Yang runtuh duluan bukan posisi kerja, tapi pintu masuknya

Studi Anthropic Maret 2026 menemukan, tingkat mulai kerja di posisi berisiko tinggi terhadap AI (AI-high-exposure jobs) untuk anak muda usia 22–25 tahun turun sekitar 14% dibanding 2022—artinya, dari setiap 7 anak muda yang mau kerja kantoran (white-collar), 1 orang bahkan nggak bisa nemuin celah masuk sama sekali. 【1】

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum juga tegas bilang: 40% pemberi kerja perkirakan akan kurangi tenaga kerja di area yang bisa diotomasi AI—artinya, dari setiap 10 bos, 4 di antaranya lagi pertimbangin ganti Anda dengan AI. 【2】

Data SignalFire 2025 bahkan lebih nyesek: proporsi rekrutmen fresh graduate di perusahaan besar (big tech) turun jadi 7%, sementara di startup kurang dari 6%, atau turun separuh dibanding 2019—dari setiap 100 karyawan baru di perusahaan besar, cuma 7 orang fresh graduate. Celah masuk yang dulu Anda perebutin, sekarang bener-bener menyempit. 【3】

Kalau digabung, angka-angka ini gambarin realita keras: Banyak orang bukan akan kehilangan kerja di masa depan—tapi belum sempet duduk di meja permainan, pintu masuknya aja udah mulai tertutup.

III|Jalur naik karier paling stabil buat pekerja kantoran mulai goyah

Apa narasi dominan buat pekerja kantoran selama puluhan tahun terakhir?

Rajin belajar. Kuasai skill. Masuk perusahaan bagus. Mulai dari junior. Kumpulin pengalaman, bangun senioritas, naik ke level manajer, lalu dapetin posisi dan daya tawar yang oke.

Ini jalur karier yang bener-bener dipercaya dan terbukti efektif buat generasi sebelumnya.

Sekarang, jalur ini bermasalah.

Bukan berarti semua posisi kerja bakal langsung diganti AI semalam. Yang bermasalah duluan bukan pekerja senior, tapi celah masuk buat generasi baru—sama lapisan tengah yang biasanya tumbuh lewat proses "akumulasi pengalaman → naik pangkat → diserap organisasi".

Belakangan, fenomena "lobster" (istilah slang untuk OPC/One-Person Company) viral, dan berbagai pemerintah daerah mulai luncurin kebijakan dukungan buat OPC. Tapi, Anda pasti sering denger nasihat serius dari para senior: "Jangan buang-buang waktu, mending kerja aja."

Pertanyaannya: Siapa bilang kalau "kerja tekun" sekarang masih jadi jalur yang cukup luas, cukup stabil, dan cukup nampung banyak anak muda?

IV|Siapa yang paling kikuk pas bos mulai pake AI?

Para senior yang kasih nasihat itu mungkin udah mencapai kebebasan finansial atau bahkan pensiun—mereka nggak sadar apa yang sebenernya lagi terjadi di dalam perusahaan sekarang.

Beberapa hari lalu, saya denger curhatan temen. Perusahaannya salah satu perusahaan teknologi finansial (tech-fin) kelas dunia. Se-giat apa bosnya?

Suatu Sabtu malem, dia baca 90 laporan mingguan dari tiap lini bisnis, terus kasih komentar dan instruksi spesifik buat masing-masing lini.

Bos itu sekarang nggak lagi ngandelin laporan berjenjang dari para manajer.

Nggak lagi nunggu rapat-rapat bertingkat buat nyampein informasi.

Tapi langsung manfaatin AI buat tangkep secara real-time: apa yang terjadi di tiap lini bisnis selama seminggu, titik macet di mana, data apa yang ngebuktiin, masalah apa yang terkait sama lini mana, di mana ada duplikasi investasi, dan di mana efisiensi kolaps.

Apa artinya ini?

Kalau Anda seorang wakil direktur utama (VP) dengan gaji tahunan jutaan RMB, nilai terbesar Anda—ngumpulin informasi, ngekoordinasi sumber daya, nerjemahin ke atas dan nyampein ke bawah—bisa lenyap dalam semalam.

Nilai seorang fresh graduate mungkin ada di kecepatan eksekusi, kemauan lembur, kemampuan ngatur dokumen, nulis laporan, bikin tabel, jalanin prosedur standar, bahkan anterin es kopi buat atasan. Sekarang, satu-satunya nilai yang tersisa cuma anterin kopi—dan bahkan tugas anter-antar ini mulai digantiin sama Meituan.

Pas gesekan organisasi (organizational friction) berkurang drastis karena AI, yang paling kikuk bukan satu kelompok tertentu—tapi semua orang yang hidupnya bergantung sama "hirarki organisasi".

Kalau pekerja kantoran tradisional berjuang keras naik jabatan, tapi sadar kalau posisi VP aja hampir hilang—maka jalur naik karier bener-bener runtuh. Terus, ruang berkembang buat anak muda di mana?

Masalah banyak orang bukan lagi "harus berusaha keras?" Tapi: kalau Anda nggak berusaha keras, sistem pun belum tentu masih nyisain tempat buat Anda.

V|Yang sebenernya harus ditentang bukan startup-nya, tapi startup berdasarkan "peta lama"

Bagian yang bener dari artikel itu, saya akui:

Pertama, sekarang ngandelin dana VC buat saingi langsung platform model dasar (large model platforms), mayoritas orang nggak punya peluang.

Kedua, banyak startup AI yang disebut-sebut emang cuma ngetes skenario dan kebutuhan pasar buat platform, plus edukasi pasar—dan ujung-ujungnya, semua usaha ini cuma nguntungin perusahaan besar.

Ketiga, dapet pendanaan nggak otomatis bikin Anda punya keunggulan kompetitif; sering kali, itu cuma berarti Anda terjebak di jendela peluang yang berubah cepet banget.

Semua ini bener.

Tapi masalah sebenernya adalah: artikel itu nentang satu jenis startup, tapi akhirnya keliatan kayak nentang semua bentuk startup.

Itu kemalasan intelektual.

Sekarang, yang harusnya ditentang bukan startup-nya—tapi startup berdasarkan "peta lama".

Apa itu "peta lama"?

Yaitu pola pikir di mana seseorang langsung mikir: "Saya akan jadi raksasa berikutnya. Saya akan kumpulin dana tahap seed, A-round, dan B-round. Saya harus cerita kisah yang seksi biar modal angkat saya. Saya harus bentuk tim dulu, baru cari kebutuhan pasar. Saya harus naikin valuasi dulu, baru mikirin cash flow."

Startup kayak gini sekarang bukan lagi berisiko tinggi—tapi berpeluang tinggi buat gagal total.

Karena yang Anda jalanin bukan bisnis, tapi perang. Yang Anda pertaruhkan bukan nilai buat pelanggan, tapi kemampuan model dasar AI, daya komputasi (compute), kepadatan talenta, ketahanan modal, akses distribusi, momentum merek, dan jendela waktu.

Anak muda biasa yang turun ke medan dengan model kayak gini bukan berani—tapi keliru.

VI|Dua jenis startup ini sama sekali beda

Tapi jenis startup lainnya—justru menurut saya sekarang nggak cuma nggak boleh dibujuk mundur, tapi harus didorong serius.

Yaitu: startup berbasis arus kas (cashflow startup).

Startup yang bener-bener bermakna kali ini bukan startup dalam artian pasar modal. Lebih mirip apa?

Lebih mirip buka kedai kopi kecil. Lebih mirip jalanin bisnis kecil yang stabil hasilin pendapatan di industri tertentu. Lebih mirip bangun solusi di segmen spesifik yang nggak diminati perusahaan penyedia model dasar (large model vendors), diabaikin perusahaan besar—tapi bener-bener nyakitin pelanggan dan mereka rela bayar buat atasinnya.

Bukan demi valuasi. Bukan demi go public. Bukan demi keliatan "keren" di media sosial. Tapi demi empat kata: bertahan hidup, berdiri kokoh.

Uang beneran yang mengalir di suatu era nggak cuma ngalir ke perusahaan mitos. Sebagian besar uang justru ngalir ke celah-celah struktural yang nggak seksi tapi hasilin arus kas; nggak megah tapi punya retensi pelanggan (repeat purchase); nggak rame tapi mampu ngasih nafkah jangka panjang.

Apalagi di era AI, celah-celah kayak gini justru banyak banget.

Karena sehebat apa pun perusahaan model dasar, mereka mustahil langsung kerjain "kilometer terakhir" di setiap kabupaten, setiap industri, setiap pabrik, setiap agen distribusi, setiap proses abu-abu (gray process), setiap transaksi berbasis hubungan (relationship-based transaction), dan setiap rantai pengetahuan semi-struktural.

Perusahaan besar fokus bangun infrastruktur. Tapi infrastruktur bukan seluruh bisnis. Yang bener-bener terus hasilin pendapatan justru sering kerjaan-kerjaan "kotor", berat, rumit—yang butuh pemahaman mendalam tentang orang, proses, hubungan, dan konteks lokal.

VII|OPC yang bener-bener bisa bertahan adalah OPC yang paham industrinya, beneran terima pembayaran, dan kecil tapi mendalam

Saya kenal seorang lulusan generasi 95-an yang bergerak di bidang rantai pasok pabrik. Sebelumnya dia kerja 5 tahun sebagai staff follow-up pesanan di pabrik��jadi sangat paham titik sakit UMKM pabrik: proses penawaran harga lambat, follow-up pesanan berantakan, dan tekanan pelanggan tinggi banget. Dia bikin sistem otomasi penawaran harga dan follow-up pesanan berbasis AI. Timnya cuma 3 orang—dua di antaranya paruh waktu—dan cuma layanin UMKM pabrik lokal. Biaya tahunan per pabrik kurang dari 20.000 RMB, dan laba bersih tahunannya capai 2 juta RMB.

Perusahaan besar sama sekali nggak tertarik sama segmen ini—jumlah UMKM pabrik di seluruh Tiongkok cuma puluhan ribu, dengan nilai kontrak per pelanggan cuma beberapa puluh ribu RMB. Perusahaan besar bahkan nggak bisa nutupin biaya listrik server, apalagi harus datengin pabrik, lakuin implementasi, dan bareng pelanggan godok kebutuhan—kerjaan kotor dan melelahkan ini sama sekali nggak pengen mereka sentuh.

Ada juga seorang wanita yang bergerak di bidang perpajakan dan akuntansi. Sebelumnya dia kerja 6 tahun di perusahaan jasa akuntansi—jadi sangat paham titik sakit perpajakan dan akuntansi UMKM. Dia bikin solusi otomasi + kepatuhan pajak & akuntansi berbasis AI khusus buat UMKM, dan cuma layanin restoran sama toko ritel lokal. Biaya bulanan per toko cuma 300 RMB, tapi dia udah kumpulin lebih dari 1.000 pelanggan berbayar. Dia bisa operasiin sendiri—dan penghasilannya 10 kali lipat lebih gede daripada pas kerja di perusahaan jasa akuntansi, plus lebih stabil.

Inilah wujud sebenernya OPC di era percepatan perkembangan AI—bukan jadi OpenAI berikutnya yang megah, tapi jadi operator yang ngombinin beberapa AI buat jalanin bisnis kecil, mendalam, stabil, dan mampu hasilin pendapatan.

VIII|Rumus sebenernya buat OPC bukan "satu orang bisa lakuin semuanya"

Ini pesan utama yang mau saya sampein: Bukan berarti "jangan startup". Tapi: jangan lagi pahami persoalan eksistensial generasi ini lewat ilusi modal generasi sebelumnya.

Startup yang lebih layak didorong sekarang umumnya punya tiga ciri. Pertama, dia nggak bertahan hidup lewat valuasi, tapi lewat arus kas. Kedua, dia nggak masuk industri asing, tapi mendalami industri yang udah dipahaminya. Ketiga, dia nggak percaya buta sama "mitos OPC", tapi manfaatin AI sebagai tuas buat perkuat sumber daya, hubungan, dan proses yang emang udah dipahaminya.

Banyak orang denger istilah "OPC" langsung merasa keren: satu orang, beberapa agent, terima pesanan dari seluruh dunia, digital nomad, efisiensi melesat.

Kedengarannya indah.

Masalahnya, banyak orang ngira kekuatan alat adalah kekuatan dirinya sendiri; ngira efisiensi sistem adalah keunggulan kompetitifnya; ngira kemampuan model adalah benteng pertahanannya.

Ini kayak apa? Kayak Anda sewa satu unit ekskavator, terus ngira diri Anda udah jadi taipan batu bara.

OPC yang bener-bener bernilai nggak pernah berarti "satu orang dengan beberapa agent bisa lakuin semuanya". Tapi rumus yang bisa direplikasi orang biasa:

Satu orang + AI + Pemahaman industri + Hubungan pelanggan + Kemampuan pengiriman (deliverability) + Jalur pembayaran berkelanjutan

IX|Nasihat bernilai beneran adalah yang bisa tunjukin arah setelah kenali risiko

Makanya, artikel ini sebenernya mau saya pake buat nanggapi bukan cuma peringatan sang pakar ke anak muda: "Jangan startup."

Yang saya tolak adalah pernyataan yang terlalu bener tapi kosong makna (empty truism).

Kasih tau anak muda buat nggak lari, tanpa kasih tau mereka harus jalan ke mana.

Itu nggak cukup.

Tentu aja sekarang anak muda nggak boleh startup sembarangan. Tentu aja mereka nggak boleh lari ke medan perang dengan ilusi pendanaan buat adu pedang sama platform. Tentu aja mereka nggak boleh ngandelin beberapa agent di industri yang sama sekali nggak mereka pahami, terus puas diri. Tentu aja mereka nggak boleh anggap "OPC" sebagai pertunjukan heroisme individual versi baru.

Tapi ini sama sekali nggak berarti anak muda harus balik duduk diam di kursi kerja mereka, nunggu lonceng PHK bunyi.

Nggak semua orang harus bikin perusahaan. Tapi perkembangan zaman bakal maksa Anda jadi seorang operator.

Di tahun 80-an, gelombang PHK massal di perusahaan negara (SOEs) di Tiongkok timur laut maksa banyak banget pekerja SOE buat bertahan hidup sendiri. Yang konservatif tetap diam di tempat, mengutuk, mengadu, merasa tersinggung dan bingung—sementara yang berani inisiatif, lahirin banyak "orang kaya pertama". Apa mereka emang pengen startup? Nggak. Itu tekanan zaman yang maksa mereka ubah pola pikir dan pola tindak.

Sekarang, tekanan zaman bukan lagi PHK pekerja pabrik—tapi PHK pekerja kantoran, secara global. Seluruh pekerja kantoran di dunia bakal bergiliran kena PHK dan harus cari kerjaan baru—dan yang bisa Anda manfaatin adalah "karyawan AI" dengan "kekuatan super" nggak terbatas. Mau ke mana—pilihan ada di tangan Anda sendiri.

X|Buat para pelaku praktis, pertimbangin tiga pertanyaan ini

1) Tiga industri yang paling saya kenal dan paling saya pahami adalah apa? (Bahkan kalo itu industri tempat orang tua Anda kerja seumur hidup)
2) Di industri ini, tiga titik sakit nyata yang pernah saya liat pelanggan alamin—dan mereka bener-bener rela bayar buat atasin—adalah apa?
3) Buat titik sakit ini, solusi terkecil yang bisa saya kirim secepatnya adalah apa?
Ketiga jawaban ini bisa jadi titik awal OPC Anda di masa depan.

Kalo Anda juga merasa kalimat "Jangan startup. Jangan startup. Jangan startup." adalah omong kosong dari orang yang berdiri tanpa ngerasain beban;
Kalo Anda juga lagi gelisah karena jalur kerja makin sempit, dan nggak tau harus melangkah ke mana;
Kalo setelah baca artikel ini Anda merasa terinspirasi;
Mohon bagikan artikel ini ke temen-temen di sekitar Anda yang lagi kebingungan.

Saya berkontribusi semampu saya buat kasih inspirasi ke anak muda:

Kalo mau mulai startup berbasis agen cerdas (intelligent agent) dan bangun OPC, langkah pertama adalah belajar jadi seorang operator.

Karena yang bener-bener nggak bakal langsung digantiin sama agen cerdas AI bukan cuma teknologi canggih dan paten—tapi juga kepercayaan, pengiriman (delivery), saluran distribusi, kepatuhan regulasi (compliance), hubungan, kehadiran langsung (on-site presence), dan pengalaman di kondisi abu-abu (gray-zone experience).

【1】Sumber kutipan: Studi Anthropic berjudul Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence, Maret 2026 https://www.anthropic.com/research/labor-market-impacts

【2】Sumber kutipan: World Economic Forum https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/?utm_source=chatgpt.com

【3】Sumber kutipan: Laporan SignalFire State of Tech Talent Report 2025 https://www.signalfire.com/blog/signalfire-state-of-talent-report-2025